RSS

Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini

Selasa, 24 Februari 2015

Cerpen "Semangat Membaca"



KERTAS MERAH PENUH TANDA
Karya: Baiq Nurya Hidayati
Sudah lama aku termangu di balik jendela menatap horison yang biru dan kini akhirnya memendarkan cahya jingga di sela pesona birunya. Mentari tampak lelah, pesona wajahnya tak lagi cerah, mungkin inilah saatnya ia berleha-leha pada tahta istana jagad raya. Senja menyapa langit. Hitam mulai menyelimuti. Dunia kelam, pasti kan gelap.
Dunia ini terasa sempit, seolah-olah aku terhimpit pada sebuah sudut lorong gelap, anjing-anjing tak henti-hentinya melolong. Kurasa mereka tengah memperolok diriku sebagai seorang  gadis tolol berusia 14 tahun.
Aku si Buta. Buta bukan berarti aku tak melihat. Buta bukan berarti aku hanya dikelilingi desah-desah suara dalam kelam kejamnya sang hitam. Namun, aku ini si buta, buta aksara.
“Dasar gadis bodoh, aaaaaaaaaaaaaaaaahhh,” teriakku keras memecah jagad.
Ingin kucabik-cabik rasanya wajahku dan membuatnya tak nampak lagi. Aku malu Tuhan. Ini salahku, aku ingin terbang tapi tak dapat kukepakkan sayapku sekuat tenaga, aku ingin cemerlang tapi tak mampu kudekati rembulan. Sejak kepergian orang tuaku sebab kecelakaan, maka putus pula sekolahku. Hanya sempat menikmati kelas 1 SD selama 2 bulan bahkan kurang karena bila datang bisikan syetan kemalasan di telingaku, maka lenyaplah diriku dalam buaian permainan tak mau belajar. Ditambah lagi, tak ada Inaq1 yang memandikan setiap pagi, tak ada Amaq2 yang menghantarku ke sekolah setiap hari hingga akhirnya aku harus hidup sendiri di sebuah pondok reot di Pantai Kuta, Lombok Tengah.
Aku ini gadis kaya. Kaya bukan berarti aku punya banyak uang, mobil mewah, rumah gedongan dan dayang-dayang. Namun, kaya akan cercaan, hinaan, dan makian hingga aku tak tahu harus menyimpannya di mana. Di kepala? Penuh! Di hati? Penuh! Di telinga? Penuh! Di perut? Kenyang sudah diriku akan sajak cerca yang mereka hantamkan padaku dan rasanya perutku mual dan aku benar-benar ingin segera memuntahkannya.
Siapa-siapa tak bisa membaca?
Yang tak bisa baca ada di depan saya
 Siapa-siapa tak bisa membaca? Yang tak bisa baca hanyalah si Shofia
 Shofia bodoh hey-hey Shofia bodoh hey hey
Shofia bodoh tak bisa baca tulis 2x
 *nyanyikan seperti lagu Anak Kambing Saya*
               Begitulah lagu spesial yang tercipta untukku, Shofia Al-Ghumaisha. Shofia adalah nama salah satu istri baginda Rasulullah dan Al-Gumaisha adalah sebutan untuk Ummu Sulaim yang terkenal akan kesalihahannya, kecerdasannya,dan kejujurannya. Itu karena Inaq1 berharap aku dapat menjadi sosok wanita sholehah seperti mereka.
              
JJJJJJJ

               Subuh datang dengan iringan pasukan pengumandang adzan yang memanggil para jiwa-jiwa yang rindu dan dirindukan Rabbnya. Setelah kusapa Tuhanku lewat sujud panjangku, seperti biasa aku mengadu.
               “Wahai dzat yang jiwaku selalu ada di genggaman-Nya,  ampunilah dosa-dosa hambamu ini serta ampunilah dosa kedua orang tuaku yang kucintai karena-Mu. Semoga cinta kasih mereka kau balas dengan surga firdaus-Mu yang indah. Ya Allah, maafkan aku yang  belum bisa menunaikan titahmu “Iqro bismirobbikallazi kholaq“, hamba menyesal bila mengingat dahulu hamba sering malas sekolah. Ya Allah, haruskah hamba terdiam dalam perbukitan sesal terus mengeluh? Maka dari itu wahai Al-Alim mudahkanlah jalanku dalam belajar membaca agar dapat kuungkap misteri di balik dunia, agar dapat kutembus jagad raya pengetahuan-Mu.”
               Makan sehari-hari kuperoleh dari hasil penjual barang bekas. Kusambangi satu persatu tempat pembuangan sampah tiap-tiap rumah. Di sela-sela sampah yang bau dan menjijikan itu kutemukan sebuah kertas berwarna merah dibingkai bunga-bunga indah. Dengan goresan kata-kata yang tak kutahu apa bunyinya.
“Andai saja aku dapat membaca,” desahku.
Aku hanya memandangi tulisan itu. Kubiarkan otakku beradu dengan huruf-huruf yang melayang-layang di pikiranku. Huruf-huruf itu berputar-putar, saling menabrak, saling bertubrukan, yang satu terkulai dan lainnya meloncat-loncat. Ah, mengapa huruf-huruf ini malah bergulat di otakku.
Terduduk aku terus memandangi tulisan itu. Air mataku menganak sungai hingga pipi banjir hangat dan asin.
“Ya Allah, andai saja aku bisa membaca,” tangisku lirih.
Kini giliran jemariku bergoyang di hamparan pasir. Kucoba menulis mengikuti kata-kata dalam tulisan itu. Walau susah sungguh, namun jemariku terus saja menari-nari. Setelah selesai, aku bangkit dari dudukku menatap tulisan itu kembali. Apa gerangan bunyinya?
Lagi-lagi huruf-huruf itu malah berdisko di otakku, menari-nari ke kanan dan ke kiri. Saling senggol-senggolan, serong kanan, serong kiri.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAhhhh!,” teriakku.
Aku berlari menjauh dari tempat itu, membuang kertas tak berguna itu dari hadapanku. Berlari sejauh mungkin, menjauh dari tulisan menyebalkan yang tak kutahu apa bunyinya.
Aku susuri Pantai Kuta tapi tak kutemukan barang bekas yang dapat dijual, kecuali sebuah kertas merah yang menari-nari terbawa hembusan angin.
Perlahan-lahan kubuka kertas itu.
“Subhanallah, ini kertas yang tadi,” mataku terbelalak.
Apa gerangan yang membawanya kemari, akankah kertas merah ini mengikutiku, atau kebetulan terbawa hembusan nafas sang angin. Lagi-lagi tulisan di dalamnya membuatku hatiku bertanya-tanya. Tak kuasa kutahan rasa penasaranku dan kini kubawa kertas itu bersamaku.
Papuq, taom bace tulisan saq yaq?3” tanyaku pada seorang nenek tua yang berdagang di tepi pantai.
Endek tao mace aku jek dende, enggakn bae muk taon elek laek aran huruf N saq  yaq,”4 katanya sambil menunjuk huruf pertama tulisan itu.
Setelah berterimakasih, aku berlalu pergi dan di kepalaku hanya terngiang huruf N.
N-N-N-N-N-N-N-N-N-N, Duhai huruf N betapa indahnya kau,” bibirku terus mengucapkannya.
Aku melangkah lagi dengan mataku terus memandangi kertas merah berisi kata misteri yang rasanya ingin segera kuungkap, pikiranku rasanya sudah tak mampu menampung rasa penasaranku. Tapi mengapa hanya kata ini yang mampu membangkitkan semangatku, menghapuskan rasa asa di dadaku, mengapa bukan tulisan-tulisan di kaleng minuman atau di bungkus roti saja. Ah, Aku makin semangat saja.
Tuaq..Tuaq!”5  teriakku kencang.
Yang diteriaki menoleh heran.
Tuaq, taom bace tulisan siaq”6  tanyaku.
Endek tao mace aku, enggakn muk taon aran huruf A saq yaq,”7 katanya sambil menunjuk huruf disamping huruf N.
 N-A-N-A-N-A-N-A-N-A, lalalalalalala” ucapku riang.
Paman tadi malah melongo dan berlalu pergi mungkin aku dikira gila olehnya karena saking riangnya. Dua huruf sudah, dua huruf sudah ya Allah. Kutatapi kembali kertas merah itu lekat-lekat sembari kuhitung jumlah hurufnya.
“ 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10. Huruf pertama namanya huruf “N” dan huruf kedua namanya huruf “A”. N-A. Masih ada delapan huruf lagi yang kini jadi misteri. Tapi  ada huruf yang serupa dengan dengan si “A” di  akhir tulisan ini, jadi sisanya tujuh huruf,” tuturku.
Rasa penasaran yang bergulat di otakku membimbing langkah kakiku kembali beradu dengan panasnya jalan yang kususuri dan teriknya mentari di siang hari.
Nyekem kembe iku ariq?”8 tanyaku.
 Nyekek piak istana cinderella kadu geres pante,”9  jawabnya sambil melontar senyum manisnya di hadapanku. Manis sekali.
 “Ape iku kakak?”10 tanyanya sembari menunjuk kertas merah dalam genggamanku.
“Ni engatn bae, bacen iku aneh?”11 kataku.
“Endek man tao mace tiang kakak, wahk tesuruk ngapalan huruf A jangke Z sik guru, laguk enggakn muk enget huruf O, D dait E saq yaq,”12 katanya sambil menunjuk tiga huruf dari tulisan itu.
O-D-E-O-D-E-O-D-E-O-D-E,” bibirku terus mengejanya semangat dan anak kecil itu malah tertawa renyah-bahagia seolah-olah yang kulakukan mampu menggelikitik pinggangnya.
Aku berlalu meninggalkannya setelah sempat kucium pipi tembemnya yang membuatku gemas. Kembali kumengingat huruf-huruf tadi dan mengejanya di sepanjang jalan.
“Ini N, Ini A, Ini O, Ini D, Ini E dan yang ada di akhir A. Nah huruf setelah D yang ini, ini, ini, ini, namanya huruf apa ya?” gumamku sendiri.
“Brakkkk.........!!!” Suara itu membuatku terperanjat.
 “Aduuuuh, daganganku jatuh semua,” ucapnya sambil sesegera mungkin memunguti barang dagangannya.
Aku segera menghampirinya dan membantunya memunguti barang dagangannya yang jatuh.
Ibu berkulit hitam manis itu tersenyum padaku seraya mengucapkan terima kasih dan memberikan sebungkus pisang goreng padaku.
“Tidak Bu!” tolakku.
“Lalu apa yang bisa kuberi sebagai balas budiku padamu Nak?”, jawabnya.
“Sudikah ibu berbagi sedikit ilmu? Sedikit saja bu,” pintaku.
“Ilmu?” tanyanya.
Telunjukku menari di atas hamparan tanah. Meliuk-liuk indah bak para penari dengan gerak-gerak indah gemulai yang terpolakan.
“Huruf seperti ular ini namanya apa bu?” tanyaku heran.
“Yang itu namanya huruf S Nak,” jawabnya tersenyum sumringah bangga.
Telunjukku menari-nari lagi.
“Lalu yang ini huruf apa Bu?”
Ibu itu terdiam. Entah karena tak tahu atau ia tengah berpikir. Lama sekali baru ia menjawab.
“Ibu tak pernah sekolah. Ibu ini orang NTT yang menikah dengan orang sasak. Tetapi suami ibu juga buta aksara, yang ibu tahu hanya huruf S itupun ibu tahu dari seorang anak,” ujarnya.
“Terima kasih Bu, kini dari Ibu, Shofia bisa berkenalan dengan indahnya liukan huruf S,”  jawabku sambil mencium tangannya dan pamit darinya.
Dari kata-kata ibu tadi aku bertekad bahwa aku harus pandai membaca, aku tak ingin jadi orang biasa yang terinjak-injak. Tak ada kata terlambat bukan? Jadi aku harus tetap berusaha belajar
S-S-S-S-S-S-S-S-S-S-S-S-S-S-S-S-S-S-S-S-S. Bertambah satu lagi dan huruf S jumlahnya ada dua dalam tulisan itu jadi sedikit lagi, sedikit lagi akan aku pecahkan kata misterinya.
Kakaq...kaq...kakaq!13 teriak seseorang di belakangku.
Sontak kumenoleh dan kupandangi siapa gerangan yang tengah berlari-lari kecil sambil meneriakiku. Mataku melihat sosok perempuan kecil yang pipinya ikut tersental-sental seiring sentakan-sentakan kedua kaki kecilnya. Ya, sosok yang tak aneh lagi. Dia adik manis di tepi pantai tadi. Kubuka tangan kulebar-lebar dan sontak ia melemparkan tubuhnya ke dalam pelukanku.
“Hah-hah-hah,” nafasnya tersenggal-senggal.
Araq napi solah?14 tanyaku.
Muk ingetn Kakaq,”15 sahutnya.
Napi Ariq?”16 timpalku lagi.
Mbe kertas beaq iku Kakaq?”17 matanya mencari-cari.
Kusodorkan kertas itu padanya.
Sereok yaq, saq yaq aran huruf I saq yaq aran huruf T,”18  lontarnya.
Aku memeluknya erat. Dia adalah sosok guru termuda yang kutemui, sosok yang telah mengajarkan huruf O, D, E, I, dan T. Setelah itu ia mencium pipiku dan berlalu pergi dengan wajah ceria.
Kumantapkan langkahku seiring mentari yang merangkak ke peraduannya. Kusandarkan tubuhku di tembok pagar Novotel Kuta. Perjalananku hari ini sungguh melelahkan sedangakan pondokku cukup jauh. Kuputuskan untuk beristirahat dan menatap kembali kertas merah itu.
N-A-O-D-E-S-I-S-T-A,” ku mengeja satu per satu huruf tulisan itu.
“Ya Allah, aku tak bisa melafalkan bunyinya,” aku menangis dan rasa kantuk serta capai pun menjeput tubuhku, kurebahkan badanku dan kututup mataku walau masih sembap sebab kucuran air mata.

JJJJJJJ

Aku terbangun. Mataku mencari-cari setiap sudut ruangan.
Foi-se doce menina? 19
Mataku melihat sosok wanita asing berbicara dalam bahasa yang tak kukenal, telingaku agak risih mendengarnya. Wajah luguku menatap heran. Wanita itu tak sendiri, ia bersama seorang laki-laki yang berkata padaku bahwa wanita itu adalah tourist dari Portugal bernama Catalina seorang pengusaha kaya yang sedang berlibur di Lombok dan laki-laki itu adalah guidenya, Pak Lalu Idham. Pak Idham memintaku memperkenalkan diriku dan menceritakan mengapa aku bisa sampai tertidur di depan Novotel. Tanpa kututupi sedikitpun, kuceritakan kisahku hari ini, kuberitahu ia namaku dan tentang orang tuaku. Setelah itu Pak Idham menerjemahkan ceritaku pada Catalina, ia berbicara padaku yang hanya kubalas dengan tatapan heran.
“Shofia, ia ingin mengasuhmu menjadi anak angkatnya. Suami dan putrinya seusiamu telah meninggal. Shofia di sini hidup sendiri bukan? Jadi bila Shofia tinggal bersamanya di Portugal, Shofia tidak kesepian lagi. Mau ya?” Terjemah Pak Idham.
Dilema melanda. Lama aku berpikir, haruskah aku meninggalkan desaku, tempat aku dihalirkan dan menyimpan bermiliaran kenangan bersama Inaq1 dan Amaq2ku.
 “Baik Pak, Shofia mau. Tapi ada syaratnya,” jawabku.
“Apa itu Nak?”
“Berbagilah sedikit ilmu padaku.”
“Caranya?”
Kukeluarkan kertas merah itu dari tas plastikku.
“Beritahu aku apa bunyinya, karena tulisan dalam kertas inilah yang membuatku sampai di sini. Aku tak dapat membacanya. Aku tak mau terpuruk dalam kebodohan karena tak dapat membaca,” ungkapku.
“NAO DESISTA,” tukas Catalina.
“NAO DESISTA?” tanyaku.
“Ini bahasa Portugis yang artinya JANGAN MENYERAH,” tutur Pak Idham.

JJJJJJJJJJJ

Di Portugal mae20 mengajariku hingga pandai membaca, aku didiknya menjadi pribadi yang anggun dan cerdas. Ia bahkan menetapkanku sebagai ahli warisnya, hingga ketika usiaku 24 tahun, beliau meninggal karena kecelakaan pesawat. Sempat aku dirundung pilu berhari-hari. Aku seperti tersesat di muara puing-puing perih. Namun, amanah untuk mengelola perusahan bisnis pariwisata mae20 yang ada di kawasan Pantai Kuta memaksaku kembali ke tanah kelahiran yang kurindukan karena Allah, hal itu membuatku semangat bahwa aku tak boleh mengecewakannya. Petuah mae20 selalu kuingat bahwa
Kita tak kan pernah mampu menembus samudera tanpa membaca,.
Kita tak kan mampu menembus cakrawala tanpa membaca.
Kita tak kan mampu memahami kebesaran Allah tanpa membaca.
Maka jangan biarkan diri kita buta tak bisa membaca.
Sebab setiap aksara pasti bermakna.
               Karena bila kita buta akan aksara maka kita pun buta akan segalanya.
               Nao Desista, Jangan Menyerah dalam menuntut ilmu Allah.


TERJEMAHAN
1.      Ibu
2.      Ayah
3.      Nenek, bisakah kau membaca tulisan ini?
4.      Saya tidak bisa membaca gadis cantik, yang saya tahu hanya huruf N saja dari dulu.
5.      Paman..Paman !
6.      Paman, bisakah kau membaca tulisan ini?
7.      Saya tidak bisa membaca, yang saya tahu hanya huruf A
8.      Sedang apa kau adik kecil?
9.      Sedang membuat istana Cinderella dari pasir pantai.
10.  Apa itu kak?
11.  Nih, lihat saja, coba dibaca?
12.  Saya belum bisa membaca kakak, saya sudah diminta menghafal huruf abjad A hingga Z oleh guru saya, tapi yang saya ingat hanya huruf O,D, dan E.
13.  kak, kak, kakak
14.  Ada apa cantik?
15.  Aku ingat kak!
16.  Apa dik?
17.  Mana kertas merah itu kak?
18.  Lihatlah ini, yang ini namanya huruf I dan yang ini namnya huruf T.
19.  Sudah bangun gadis manis?
20.  Ibu


                       

Kamis, 12 September 2013

CONTOH RESENSI BUKU


Judul Buku         :      Danau Satonda (Cerita Rakyat Dompu-NTB)
Penulis                :     Abdul Haris
Penerbit               :     CV. Mahani Persada
Cetakan               :     II, Januari 2007
Tempat Terbit     :      Mataram, NTB
Tebal                    :     vii + 32 halaman
Ukuran Buku                  :     20,5 cm x 14,5 cm
Ilustrasi Sampul :     Buku ini dikemas dengan sampul buku yang berisi gambar ilustrasi yang didominasi warna biru dan dipadu-padankan dengan warna putih memberi kesan yang sederhana namun menarik. Kumpulan air berwarna biru muda terhampar di bawah pegunungan dengan warna biru tua yang memberi kesan tampak dari kejauhan, terdapat juga sepasang awan berwarna putih pada sisi kiri dan kanannya. Pada sampul, tertulis judul dengan kata “Danau” berwarna hitam, sedangkan kata “Satonda” dengan ukuran huruf yang lebih besar dan  jenis huruf yang berbeda dengan gaya lebih dinamis dibumbui warna merah menyala dan warna abu-abu di tepinya yang menumbuhkan kesan bayangan pada tulisan sehingga tampak seperti tiga dimensi. Di bawah kata “Satonda” tertulis keterangan asal cerita yakni “Cerita Rakyat Dompu-NTB” dengan ukuran huruf yang lebih kecil dan jenis huruf yang berbeda berwarna hitam.

Menyelami buku “Danau Satonda”, pembaca seolah-olah dibawa ke kawasan gunung Tambora dan sekitar danau Satonda yang merupakan tempat berlangsungnya cerita. Penggambaran latar yang sangat kuat menjadi salah satu nilai lebih dari buku ini. Cerita rakyat Dompu yang mengisahkan asal muasal danau Satonda yang konon terbentuk dari air mata penyesalan Santonda akibat memaksakan cintanya kepada ibu kandungnya sendiri, mengalir ke sebuah lekukan menyerupai kawah berisi air hingga airnya menjadi sangat asin.
Cerita disajikan dengan rangkaian alur peristiwa yang lengkap dalam gaya bahasa yang indah dan sangat mudah untuk dipahami sehingga dapat membantu meningkatkan daya imaginatif pembaca. Cerita yang sarat akan  makna dan nilai ini tentu sangat bermanfaat. Amanat cerita tergambar jelas dalam setiap bagian cerita, tentang kasih sayang orang tua, pentingnya  berbakti pada orang tua, dan dampak buruk dari kelalaian serta memaksakan kehendak pada orang lain. Buku ini juga dilengkapi beberapa gambar ilustrasi sebagai media grafis yang akan memudahkan pemahaman ulasan cerita khususnya untuk kalangan anak-anak.
Kelemahannya adalah penulis kurang mampu membangkitkan rasa ingin tahu atau rasa penasaran pembaca. Pembaca terkesan hanya disuapi tanpa ada stimulus untuk berpikir kelanjutan dari cerita. Misalnya pada suatu paragraf tertulis: Ari Mantika mengerutkan dahinya, ia cukup heran akan kata terakhir suaminya. Pembaca sudah dapat menebak bahwa suami Ari Mantika akan mati.
Namun, dengan adanya buku ini, pembaca dapat meningkatkan wawasan cerita lokal, untuk menina bobokan anak-anak sebelum tidur, dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya dapat menjadi bekal pembaca dalam meniti kehidupan.